Bersandau gurau di tempat penantian kematian. tertawa lepas tanpa mendengar gusaran hati yang menyapaku perlahan. dia menungguku di tempat yang disana aku tidak perlu khawatir akan sesuatu yang lupa. berkaca pada diriku yang menyebutnya itu aku yang sebenarnya.
Dia tahu aku memakai topeng yang salah. memaksaku berperan apa yang menjadi karakter di dalamnya. lantas kenapa aku berifikir itulah nampak ku. padahal dia hanya illusi yang menipuku hingga aku beranggapan terhadap apa yang nampak.
logika ini masih bertanya mana yang mestinya aku perankan. raga ini masih nyaman dalam sandiwaranya. hati memarahinya namun rasa amarah itu membukam telinganya. dia tak mau tahu apa yang harusnya dia dapatkan dengan meninggalkan apa yang dia lakukan.
mereka saling tarik menarik untuk memenangkan apa yang menjadi tujuan masing-masing. mengarah kemana pilihan itu terjatuh tergantung mana yang aku dengar. semakin lemah dimana aku meletakan pilihan yang benar, kesempatan penipu itu semakin lancar menjalankan misinya.
aku mencoba mendengar dari segala arah, dan aku semestinya tahu mana yang menjadi sumber yang menyelamatkan. dia tercipta dari kebenaran yang terjaga. yah dialah yang seharusnya menjadi diriku.
MUSLIM YANG KAFFAH

0 komentar: