Hati menahan jeritannya, dia terbelenggu oleh logika buta yang menikamnya, menunggu tanpa ada kejelasan dan tanya yang dalam kapan pint...

Hijrah Jangan dinantikan tapi disegerakan


Hati menahan jeritannya, dia terbelenggu oleh logika buta yang menikamnya, menunggu tanpa ada kejelasan dan tanya yang dalam kapan pintu itu terbuka. Jalan itu sudah menunggu nya, panah kebenaran itu sudah memberi arah ke pikirannya, namun nafsu telah membutakannya, dia melawan apa yang selama ini dia pendam.


Jika saja ada pedang menghunus mengarah ke tubuhnya, mungkin dia akan mengungkapkannya, apa yang selama ini dia lawan, mungkin dia akan luluhkan ikatan pada logika buta dan nafsu yang mengikatnya. tapi dia sekarang dalam zona yang nyaman, tidak ada fikiran terlintas semua itu dia lakukan.
zona itu terlalu berat untuk ditinggalkan, dia memberikan rasa yang membuat dia terlena hingga lupa apa yang seharusnya dia ingat. zona itu mungkin terasa damai baginya hingga dia lupa ada zona yang lebih damai dari apa yang dia rasakan selama ini.
waktu kian berlalu, dia masih asyik dengan dunianya, tertawa lepas seperti tanpa ada belenggu yang menahannya. dia tidak menulusuri apakah ada yang salah pada dirinya. kenyamanan membuat dia betah dalam sesatnya. andai suatu saat ada duri menusuk kakinya mungkin itu jalan untuk membuka mata hatinya.
tibalah saat dimana dia larut dalam tanya yang dalam. Apa yang aku lakukan? siapa aku sebenarnya? darimana aku berasal? siapa yang menciptakanku? untuk apa aku diciptakan? apakah untuk ini aku diciptakan? lantas kemana aku seharusnya berjalan?. yah, mungkin itu beberapa pertanyaan yang akan membuka mata hatinya yang selama ini dibutakan oleh belenggu kenyamanan fana.
kenyamanan itu mulai terganggu oleh rasa bersalah yg membututinya, dia mulai mengijinkan hatinya untuk menjerit yang dulu dia pernah tahan. dia lawan semua logika buta yang mencekik hati nuraninya. perlahan dia mulai berjalan kemana harusnya dia mengarah, yah dia mulai HIJRAH.
dia menangis ditusuk oleh ribuan pedang penyesalan. tasbih itu mulai tergengam erat di ikatan jarinya, dengan tangan yang bergetar dia lirih mengucap Astagfirullahal Adziim... damai, tenang dan sejuk telah menyelimuti dirinya. inilah zona yang sangat nyaman dibanding apa yg dulu dia rasakan.
kedamaian hati dan fikiran ini semoga selamanya terjaga...
Aamiin

0 komentar: